Dec 6, 2007

Apakah Saya Lulus Ujian ?

Hari hari berat begitu terasa setelah saya resign dari dunia TDB tanggal 13 September lalu. Pada awalnya aktifitas saya masih di seputar dunia garmen karena pada saat itu menjelang lebaran. Sentra perkulakan garment sering saya sambangi, sambil cari peluang peluang baru dan barang dagangan tentunya. Pulangnya seringkali di bagasi mobil atau di boncengan sepeda motor ada karung penuh berisi (sayang saya lupa mengabadikannya, tapi rasanya gak berbeda jauh dengan ibu yang bawa karung pakai motor yang ada di Blognya Pak Hadi). Bazar ke bazaar saya lalui, kirim barang dagangan ke kampung juga. Alhamdulilah THR tahun ini datangnya dari jalan bazaar. Pasca lebaran, aktifitas bazar tinggal di Benton Juction Lippo Karawaci (tercatat masih ada 3 member TDA yang bertahan di sana, saya, mbak Vina dan mbak Lina), syukurlah masih dapat profit lumayan.
Sayapun mulai merambah ke dunia saya yang lalu, dunia partambangan, dengan menjajakan Lokasi lokasi KP, sekalian jual diri (maksudnya menawarkan jasa consulting). Tapi yang datang justru apa yang tidak saya harapkan saat ini… berkali kali saya malahan di tawari jadi karyawan dengan iming iming imbalan yang lumayan .. berapa?? Yang jelas 8 digit. Suatu ujian berat buat saya.
Lagi lagi saat ini saya masih tetap bertahan untuk berkata .. “TIDAK”, mungkin banyak yang menganggap saya bodoh, goblok, gila dsb. Masak ditawarin kerja kok di tolak ? Padahal di luar sana mungkin masih banyak orang orang yang berpusing pusing menjajakan ijazah sarjananya… Biarlah orang menganggap saya begitu… saya terima saja. Yang penting istri tercinta masih menganggap saya waras dan terus memberikan supportnya.
Rupanya penantian saya mulai ada hasilnya ketika tadi siang (Kamis , 8 Nop 2007) saya mendapatkan deal untuk mengerjakan project inventarisasi tambang di dua kabupaten di Kalimantan Timur, Alhamdulillah…..
Pulangnya saya sempatkan untuk mampir ke kantor atasan saya ketika jadi TDB dulu (sebut saja Pak D). Ngobrol ngalor ngidul.. tukar pengalaman dan sebagainya. Sampailah kami pada satu obrolan yang wah……
“Punya project gak?” Tanya Pak D
“Ada sih, kecil kecilan” jawabku
“Ini kebetulan ada yang punya duit nganggur, yang ready sih sekitar 5 jutaan, tapi bisa sampai maksimal 30 jutaan”
“Project apa yang bisa di danai ?” tanyaku
“Project jangka pendek maksimal 6 bulan”
“Syaratnya” sambungku
Syaratnya :
1. Sudah ada kontrak (misal pengadaan barang dll)
2. Nilai project setidaknya 1 juta
3. Profit margin minimal 20%
4. Waktu singkat (3-6 bulan)
5. Pola bagi hasil (60 Funder 40 Pelaksana), negotiable
6. Funder ikut terlibat dalam pengelolaan financial project tersebut (bukan
perusahaan).
“Ya coba nanti kalau ada project yang memenuhi kriteria itu” kataku
Saya pun pulang dengan kepala berdenyut nyut nyut…, yang jelas itu belum kelasku. Ini terlalu spektakuler, kenapa ? karena simbol yang di pakai di depan angka itu bukan RP tapi US$!
Ah pusing…..

Salam FUNtastic !

Dec 5, 2007

Menebang Pohon Bintaro

Di depan rumah saya ada pohon bintaro yang sudah cukup besardan rindang dengan batang berdiameter sekitar 25 cm. Pohon itu sudah berada di sana ketika saya mulai menempati rumah itu 3 tahun lalu. Adem, itulah yang dirasakan ketika barada di bawahnya saat terik matahari siang menyengat. Pada ujung dahan dan ranting yang dipenuhi daun, tergantung buah yang persis seperti buah mangga dan tampak sangat menggiurkan, apalagi ketika warnanya mulai memerah. Sayang buah itu tidak bisa dimakan.

Suatu siang ketika saya sedang ngadem di bawah pohon itu, seorang ibu tua dengan menggandeng cucunya berjalan menghampiri. Dia menyapaku saat sampai di dekatku “ Assalaamualaikum, pak!” “Wa’alaikum salaam.. “ sahutku. Seterusnya terjadi perbincangan singkat sekedar berbasa basi. Akhirnya si ibu tua memberanikan diri menyapaikan maksudnya, “ Pak maaf, apakah saya boleh minta buah itu ?” sambil meunjuk ke atas. “ Oh silahkan Ibu” sahutku. “ Mau untuk apa Ibu” sambungku bertanya. “ Kepingin nyicipin, bagaimana ya rasanya?” jawab si Ibu. Saya terdiam, ada rasa kasihan, geli, bingung bercampur aduk. Pelan pelan aku jelaskan ke Ibu itu “ Maaf ibu, pohon ini namanya pohon bintaro, buahnya memang mirip mangga bu, tapi buahnya nggak bisa dimakan. Tadi ketika ibu minta saya iyakan karena saya pikir ibu perlu bijinya yang sudah tua untuk di tanam.” Si Ibu tua pun berpamitan dan pergi, nampak gurat kecewa (dan mungkin malu). Sejak saat itu Saya memutuskan untuk menebang pohon itu dan menggantinya dengan pohon buah, yang lebih bermanfaat.

Akhirnya pohon jambu air hijau (Cincalo) yang saya pilih untuk pengganti. Saya sengaja menebang pohon bintaro itu sendiri sambil mengisi waktu luang sore hari. Alhamdulillah dengan sebilah golok akhirnya pohon itu tumbang. Tetangga sebelah rumah saat melihat aku menebang pohon bertanya, apa engggak sayang pohonnya di tebang, kan jadi panas. Memang betul sejak pohon itu ditebang rumah jadi panas, tapi Insya Allah akan tergantikan oleh pohon jambu nantinya. Pekerjaan terberat di depan mata adalah mencabut tonggak pohon bintaro yang sudah cukup besar. Sudah barang tentu akarnya besar besar dan tertancap kuat dan dalam di tanah. Bagaimanapun harus tercabut, karena di situlah si jambu air sebagai tanaman pengganti harus di tempatkan (maklum space terbatas).

Dengan berbekal peralatan seadanya, sebilah golok dan sebatang linggis saya mulai menggali pokok pohon di sore keesokan hari setelah pohon roboh. Sedikit demi sedikit tanah di sekitar mulai terbongkar, keras sekali. Satu per satu akar pohon pun mulai kelihatan dan satu per satu saya tebas dengan golok. Sering kali linggis berbunyi “crang…” pertanda beradu dengan batu. Batu batu itupun harus di bongkar. Sulit memang. Ketika sedang asyik menggali tonggak pohon, setidaknya ada empat orang yang lewat dan memberikan komentar. Orang pertama bilang “ Pak, pohon bintaro itu akarnya banyak dan kuat, susah untuk diambil tonggaknya”. Yang kedua : “ Wah kalo hanya dengan linggis kecil begitu, mana mungkin biasa keambil, harus dengan cangkul dan itu susah sekali.” Yang ketiga : “Kalau mau nyabut itu harus pakai katrol pak, kalau pakai linggis gitu enggak bakalan kecabut.” Dan yang terakhir : “ Kalau galinya model gitu juga paling cepat seminggu batu kelar pak.”. Semuanya hanya saya jawab sengan senyum sambil berkata “ Ya saya coba saja Pak, Insya Allah bisa.” Ada keraguan juga di hati, tapi tekad sudah bulat. Jambu harus tertanam.

Akar demi akar, batu demi batu satu persatu tersingkir dari tempatnya. Tak terasa tumpukan tanah galian juga sudah mulai menggunung. Akhirnya pokok pohon rebah juga. Tidak perlu dua hari atau bahkan seminggu, ternyata hanya beberapa jam saja. Dan sekarangpun Pohon jambu sudah menggantikan posisinya. Selesai semua, ketika cuci tangan tangan terasa perih dan saya baru menyadari bahwa tangan saya banyak yang lecet dan bahkan berdarah. Yang saya heran pada saat menggali terlalu asyik "menikmati proses". Sayapun hanya bisa berharap agar bisa hidup, berbuah dan tidak perlu mengecewakan orang lagi.

Hikmah yang dapat diambil adalah :

1. Beranilah meninggalkan comfort zone untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar, lebih berarti. Pohon bintaro yang rindang adalah sebuah comfort zone.

2. Keterbatasan peralatan atau sarana serta keadaan bukan alasan untuk tidak ACTION dalam mengejar mimpi. Yakin akan tujuan dan konsisten.

3. Hambatan dan rintangan pasti akan muncul dalam perjalanan (seperti akar dan batu), tapi yakinlah bahwa itu akan teratasi.

4. Hati hati dengan orang orang disekitar kita, karena kadang kadang merekalah yang mengendorkan semangat kita (seperti 4 orang yang berkomentar).

5. Ketika kita menikmati proses dan punya keyakinan kuat, beratnya perjuangan dan "berdarah darah" menjadi tidak terasa. Justru kakan disadari ketika telah melalui proses itu. Dan disitulah indahnya sebuah proses.

6. Kita hanya berusaha, Allahlah yang menentukan (Let it God).


Semoga bermanfaat.

Salam FUNtastic

Aug 14, 2007

GANTI FOTO DI BLOG

Bagi yang pernah berkunjung di blog saya http://www.panggah.blogspot.com/ , sejak saat ini saya telah mengganti foto di blog saya agar lebih sesuai dengan status baru saya. Foto terdahulu saya sedang mengenakan safety helmet, yang di dunia pertambangan dimana saya bekerja disebut “alat pelindung diri”, sehingga pekerja menjadi lebih “aman”. Ya, memang itu sangat sesuai dengan status saya yang berada di “comfort zone” sebagai pekerja alias TDB. Tanggal 13 Agustus 2007 ini, saya tancapkan milestone baru dalam perjalanan hidup saya, karena secara resmi saya mengajukan pengunduran diri saya dari perusahaan dan sebulan kemudian di tanggal 13 September 2007 saya akan menjadi “orang bebas”. Memang kategori orang bebas tersebuat belum berarti bebas finansial dan bebas waktu. Malahan dari segi finansial saya harus merelakan kehilangan 1 digit income bulanan keluarga saya dari 8 digit menjadi 7 digit.Tapi setidaknya saya terbebas dari aturan perusahaan (baca aturan orang lain), sehingga saya bisa lebih bisa fokus dan bebas berkreasi untuk “mengejar impian” saya sejak lama to be entrepreneur.
Saya sungguh bersyukur berada di komunitas ini (TDA) yang telah banyak memberikan inspirasi dan meniupkan semangat entrepreneur. Selanjutnya mohon dukungan dari rekan TDA sekalian.
Salam FUNtastic!

Apr 27, 2007

Ada Apa Dengan mBah Mo


Foto bersama Pak Mur sang "Profesor Doctor" Marketing
(berdiri di tengah kaos bergaris)
Pernah dengar nama mBah Mo? Mungkin terbayang di pikiran anda adalah seorang tua renta berjalan tertatih tatih pakai tongkat. Mungkin anda benar… tapi yang saya maksud dengan mBah Mo di sini adalah sebuah warung bakmi khas jawa yang terletak di “pedalaman” Bantul. Saya sebut pedalaman karena jangkauannya dari keramaian, yaitu kota Jogja,
cukup jauh dan “sulit” karena harus melewati perkampungan perkampungan dan liku liku jalannya pun sulit di hafal, apalagi kalau anda hanya1 atau 2 kali saja ke sana.
Sekarang mungkin anda bertanya apa sih istimewanya Bakmi mBah Mo ? Bagi yang sudah berkunjung ke sana akan tahu persis keistimewaannya. Baiklah saya gambarkan bagi yang belum pernah berkunjung ke sana.

Bakmi mBah Mo adalah sebuah warung bakmi jawa biasa yang berdiri disebuah ujung jalan buntu di perkampungan bernama Code, Bantul sekitar 15 kilometer dari kota Jogjakarta ke arah selatan, memakan waktu perjalanan sekitar 30 menit (bagi yang sudah tahu jalan) hingga 1-2 jam bagi yang belum pernah kesana, karena harus pakai nanya dan nyasar. (Konon bila calon pelanggan nyasar, Pak Mur si “Marketing”nya mBah Mo makin seneng kenapa?…). Sampai di depan “restoran” bukannya bangunan megah yang kita temui di situ , melainkan “hanya” rumah kampung, “gerobak” bakmi dan banguan dari bambu beratap seng bekas kandang sapi lengkap dengan bangku bambunya. Tapi justru bekas kandang sapi inilah yang di berfungsi jadi ruang “VIP”. Sampai pada menu yang disuguhkan.. seperti namanya.. bakmi rebus (menu spesial) dan bakmi goreng ditambah emping melinjo dan wedang teh jahe panas sebagai pelengkap.
Yang menjadi sangat istimewa dengan Bakmi mBah Mo adalah warung ini sangat “kondang”. Lihatlah betapa tiap malam banyak pengunjung dengan mobil mobil bagus dan banyak diantaranya berplat nomor luar Jogja parkir di pelataran warung. Bahkan tercatat banyak Mentri dan Pembesar serta Punggawa Negri ini pernah berkunjung dan menikmati ke khasan Bakmi mBah Mo, juga keluarga Presiden Republik Mimpi pun (SBY = Si Butet Yogya) menjadi pelanggan setia. Menurut Pak Mur, marketing sekaligus anak mantu mBah Mo, daya jual dari Bakmi mBah Mo adalah cita rasa bakminya, khususnya bakmi godog (rebus) dan wedang jahenya juga nuansa perkampungan.
Kesuksesan Bakmi mBah Mo tidak bisa dilepaskan dari sosok Pak Mur sang menantu, yang ternyata (maaf) hanya lulusan Sekolah Dasar telah berhasil mengantar Bakmi mBah Mo menjadi terkenal seperti sekarang, melalui ilmu dan strategi marketing yang luar biasa. (Seperti yang beliau share kepada kami). Bagi saya ilmu marketing Pak Mur selayak pakar marketing nomor wahid di Indonesia, bahkan kalaupun saya berhak mengeluarkan ijazah atau gelar, niscaya akan saya beri dia gelar Profesor Doktor untuk ilmu marketingnya. Bagaimana tidak? Dari tempatnya yang jauh dan sulit dijangkau, bahkan dulunya jin mau buang anak di situ saja rasanya ogah, bisa diorbitkan sebuah warung bakmi “bersekala nasional”.
Banyak hal terkait dengan mBah Mo berbau “anti marketing”, yang paling utama adalah lokasinya.. yang sangat jauh dari kata strategis. Bagaimana kiat Pak Mur memasarkan mBah Mo ? …. To be continued….

Mar 21, 2007

Menembus Keterbatasan

Kutu anjing adalah binatang yang mampu melompat 300 kali tinggi tubuhnya. Namun, apa yang terjadi bila ia dimasukan ke dalam sebuah kotak korek api kosong lalu dibiarkan disana selama satu hingga dua minggu? Hasilnya, kutu itu sekarang hanya mampu melompat setinggi kotak korek api saja! Kemampuannya melompat 300 kali tinggi tubuhnya tiba-tiba hilang.
Ini yang terjadi. Ketika kutu itu berada di dalam kotak korek api ia mencoba melompat tinggi. Tapi ia terbentur dinding kotak korek api. Ia mencoba lagi dan terbentur lagi. Terus begitu sehingga ia mulai ragu akan kemampuannya sendiri.
Ia mulai berpikir, "Sepertinya kemampuan saya melompat memang hanya segini." Kemudian loncatannya disesuaikan dengan tinggi kotak korek api. Aman. Dia tidak membentur. Saat itulah dia menjadi sangat yakin, "Nah benar kan? Kemampuan saya memang cuma segini. Inilah saya!"
Ketika kutu itu sudah dikeluarkan dari kotak korek api, dia masih terus merasa bahwa batas kemampuan lompatnya hanya setinggi kotak korek api. Sang kutu pun hidup seperti itu hingga akhir hayat. Kemampuan yang sesungguhnya tidak tampak. Kehidupannya telah dibatasi oleh lingkungannya.
Sesungguhnya di dalam diri kita juga banyak kotak korek api. Misalnya anda memiliki atasan yang tidak memiliki kepemimpinan memadai. Dia tipe orang yang selalu takut tersaingi bawahannya, sehingga dia sengaja menghambat perkembangan karir kita. Ketika anda mencoba melompat tinggi, dia tidak pernah memuji, bahkan justru tersinggung. Dia adalah contoh kotak korek api yang bisa mengkerdilkan anda.
Teman kerja juga bisa jadi kotak korek api. Coba ingat, ketika dia bicara begini, "Ngapain sih kamu kerja keras seperti itu, kamu nggak bakalan dipromosikan, kok." Ingat! Mereka adalah kotak korek api. Mereka bisa menghambat perkembangan potensi diri Anda.
Korek api juga bisa berbentuk kondisi tubuh yang kurang sempurna, tingkat pendidikan yang rendah, kemiskinan, usia dan lain sebagianya. Bila semua itu menjadi kotak korek api maka akan menghambat prestasi dan kemampuan anda yang sesungguhnya tidak tercermin dalam aktivitas sehari-hari.
Bila potensi anda yang sesungguhnya ingin muncul, anda harus take action untuk menembus kotak korek api itu. Lihatlah Ucok Baba, dengan tinggi tubuh yang di bawah rata-rata ia mampu menjadi presenter di televisi. Andapun pasti kenal Helen Keller. Dengan mata yang buta, tuli dan "gagu" dia mampu lulus dari Harvard University. Bill Gates tidak menyelesaikan pendidikan sarjananya, namun mampu menjadi "raja" komputer. Andre Wongso, tidak menamatkan sekolah dasar namun mampu menjadi motivator nomor satu di Indonesia.
Contoh lain Meneg BUMN, Bapak Sugiharto, yang pernah menjadi seorang pengasong, tukang parkir dan kuli di Pelabuhan. Kemiskinan tidak menghambatnya untuk terus maju. Bahkan sebelum menjadi menteri beliau pernah menjadi eksekutif di salah satu perusahaan ternama.
Begitu pula dengan Nelson Mandela. Ia menjadi presiden Afrika Selatan setelah usianya lewat 65 tahun. Kolonel Sanders sukses membangun jaringan restoran fast food ketika usianya sudah lebih dari 62 tahun.
Nah, bila anda masih terkungkung dengan kotak korek api, pada hakekatnya anda masih terjajah. Orang-orang seperti Ucok Baba, Helen Keller, Andre Wongso, Sugiharto, Bill Gates dan Nelson Mandela adalah orang yang mampu menembus kungkungan kotak korek api. Merekalah contoh sosok orang yang merdeka, sehingga mampu menembus berbagai keterbatasan